Khamis, 2 Jun 2011
Musibah dan Nikmat
Firman Allah yang bermaksud: "Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebahagian besar (dari kesalahanmu)." (Surah Asy-Syura, ayat 30)
Rasulullah SAW bersabda: "Sungguh aneh bagi seseorang mukmin itu, seluruh keadaan yang meni...mpa dirinya dianggap sebagai sesuatu kebaikan bagi dirinya. Keadaan seperti ini tidak akan ditemui pada sesiapapun kecuali seorang yang beriman. Jika dia mendapat kesenangan lalu dia bersyukur, maka perkara itu akan mendatangkan kebaikan bagi dirinya. Jika mendapat kesusahan lalu dia bersabar, maka perkara itu akan mendatangkan sebuah kebaikan bagi dirinya." (Hadis riwayat Imam Muslim)
Abu Hurairah pernah bersama Rasulullah SAW menziarahi seorang yang menderita penyakit demam. Rasulullah bersabda kepada pesakit itu yang bermaksud: "Beritakanlah khabar gembira, sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla pernah berfirman: Penyakit itu adalah api-Ku yang Aku timpakan kepada hamba-Ku yang mukmin di dunia ini supaya dia dapat selamat dari api neraka pada hari akhirat nanti." (Hadis riwayat Imam Ahmad)
Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: "Apabila seseorang hamba itu sakit atau dalam perjalanan (musafir), maka akan dicatat baginya pahala perbuatannya seperti yang dia kerjakan ketika mukim dan dalam keadaan sihat." (Hadis riwayat Imam al-Bukhari)
Wahab Munabih berkata: "Sesungguhnya umat sebelum kamu, apabila salah seorang di antara mereka tertimpa bala, dia menganggapnya sebagai kemewahan dan apabila dia mendapat kemewahan, dia menganggapnya sebagai bala."
Puisi Cinta
Pertemuan…
menghadiahkan kita kasih sayang…
jika cinta satu pasti bertemu…
ia tidak ternilai…
kerana antara hati kita
telah tiada antaranya lagi
yang ada hanyalah cinta kasih Ilahi…
kita berpisah hanya sementara
kerna pertemuan bukan milik kita…
jasad dan suara berjauhan senantiasa
namun cinta abadi…
biar berpisah selalu menderita
kerana syurga menagih ujian
sedang neraka dipagari oleh nikmat
bertemu tidak jemu
berpisah tidak gelisah..
Doa 1
"Ya Allah, aku memohon petunjuk kebaikan kepada-Mu dengan ilmu-Mu. Aku memohon kekuatan dengan kekuatan-Mu. Ya Allah, seandainya Engkau tahu bahwa pilihan ini baik untukku dalam agamaku, kehidupanku dan jalan hidupku, jadikanlah untukku dan mudahkanlah bagiku dan berkatilah aku di dalam pilihan ini.
Namun jika Engkau tahu bahwa pilihan ini buruk untukku, agamaku dan jalan hidupku, jauhkan aku darinya dan jauhkan pilihan itu dariku. Tetapkanlah bagiku kebaikan dimana pun kebaikan itu berada dan redhailah aku dengan kebaikan itu".
~diriwayatkan oleh al-Bukhari daripada Jabir r.a
Ahlan Wahsalan dari Cik Puan Ayu Blogz
Surah Al Baqarah [2] : [255]
(Allah) yang mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedang mereka tidak mengetahui sesuatu pun dari (kandungan) ilmu Allah melainkan apa yang Allah kehendaki (memberitahu kepadanya).
.......................................
Segala puji-pujian hanya bagi Allah yang Maha Agung yang telah mengurniakan nikmat Islam dan manisnya keimanan dengan ilmu yang telah diwarisi dari utusan-Nya, Nabi Muhammad sallahu ‘alaihi wasallam dan diajarkan serta disampaikan pula oleh pengikut yang mengikutinya dari ahlul bait, kalangan sahabat (r.a) dan para ulama terdahulu hingga zaman sekarang.
--------------------------------------
Terima kasih atas kunjungan dan semoga Allah temukan kita di syurgaNya yang abadi, Amin.
Saya bukanlah seorang ustazah @ ustaz, atau seorang alim yang penuh dengan ilmu di dada. Banyak perkara yang saya tidak tahu.
Perkara yang baik, tiada salahnya dikongsi bersama. Sebarkanlah apa saja yang anda fikirkan perlu disebarkan. Tidak perlu link kembali atau minta izin.
Apa yang anda baca di sini hanyalah maklumat. Ianya akan menjadi ilmu yang manfaat apabila diamalkan. Dan jika kita sampaikan ilmu yang kita ada kepada orang lain, maka Allah akan menganugerahkan kepada kita ilmu yang belum kita tahu
(Allah) yang mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedang mereka tidak mengetahui sesuatu pun dari (kandungan) ilmu Allah melainkan apa yang Allah kehendaki (memberitahu kepadanya).
.......................................
Segala puji-pujian hanya bagi Allah yang Maha Agung yang telah mengurniakan nikmat Islam dan manisnya keimanan dengan ilmu yang telah diwarisi dari utusan-Nya, Nabi Muhammad sallahu ‘alaihi wasallam dan diajarkan serta disampaikan pula oleh pengikut yang mengikutinya dari ahlul bait, kalangan sahabat (r.a) dan para ulama terdahulu hingga zaman sekarang.
--------------------------------------
Terima kasih atas kunjungan dan semoga Allah temukan kita di syurgaNya yang abadi, Amin.
Saya bukanlah seorang ustazah @ ustaz, atau seorang alim yang penuh dengan ilmu di dada. Banyak perkara yang saya tidak tahu.
Perkara yang baik, tiada salahnya dikongsi bersama. Sebarkanlah apa saja yang anda fikirkan perlu disebarkan. Tidak perlu link kembali atau minta izin.
Apa yang anda baca di sini hanyalah maklumat. Ianya akan menjadi ilmu yang manfaat apabila diamalkan. Dan jika kita sampaikan ilmu yang kita ada kepada orang lain, maka Allah akan menganugerahkan kepada kita ilmu yang belum kita tahu
ERTI KUNCI
AL-IMAM Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata:
“Sesungguhnya Allah telah menjadikan bagi segala sesuatu kunci untuk membukanya, Allah menjadikan kunci pembuka shalat adalah bersuci sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
ツ‘Kunci shalat adalah bersuci’,
Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan:
ツ kunci PEMBUKA HAJI adalah ihram,
ツ kunci KEBAJIKAN adalah kejujuran,
ツ kunci SYURGA adalah tauhid,
ツ kunci ILMU adalah bagusnya bertanya dan mendengarkan,
ツ kunci KEMENANGAN adalah kesabaran,
ツ kunci DITAMBAHNYA NIKMAT adalah syukur,
ツ kunci KEWALIAN adalah mahabbah dan zikir,
ツ kunci KEBERUNTUNGAN adalah takwa,
ツ kunci TAUFIK adalah harap dan cemas kepada Allah ‘Azza wa Jalla,
ツ kunci DIKABULKAN adalah doa,
ツ kunci KEINGINAN TERHADAP AKHIRAT adalah zuhud di dunia,
ツ kunci KEIMANAN adalah tafakkur pada hal yang diperintahkan Allah, keselamatan bagi-Nya, serta keikhlasan terhadap-Nya di dalam kecintaan, kebencian, melakukan, dan meninggalkan,
ツ kunci HIDUPNYA HATI adalah tadabbur al-Qur’an, beribadah di waktu sahur, dan meninggalkan dosa-dosa,
ツ kunci DIDAPATKANNYA RAHMAT adalah ihsan di dalam beribadat terhadap Khaliq dan berupaya memberi manfaat kepada para hamba-Nya,
ツ kunci REZEKI adalah usaha bersama istighfar dan takwa,
ツ kunci KEMULIAAN adalah ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya,
ツ kunci PERSIAPAN untuk akhirat adalah pendeknya angan-angan,
ツ kunci SEMUA KEBAIKAN adalah keinginan terhadap Allah dan kampung akhirat,
ツ kunci SEMUA KEBURUKAN adalah cinta dunia dan panjangnya angan-angan.
❁ ❀ ✿ ❁ ❀ ✿ ❁ ❀ ✿ ❁ ❀ ✿ ❁ ❀ ✿ ❁ ❀ ✿ ❁ ❀ ✿ ❁ ❀ ✿ ❁ ❀ ✿

“Ini adalah bab yang agung dari bab-bab ilmu yang paling bermanfaat, aitu mengetahui pintu-pintu kebaikan dan keburukan, tidaklah diberi taufik untuk mengetahuinya dan memperhatikannya kecuali seorang yang memiliki bagian dan taufik yang agung, karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan kunci bagi setiap kebaikan dan kejelekan,
∞ kunci dan pintu untuk masuk kepadanya sebagaimana Allah jadikan kesyirikan, kesombongan, berpaling dari apa yang disampaikan Allah kepada Rasul-Nya,
∞ dan lalai dari dzikir terhadap-Nya dan melaksanakan hak-Nya sebagai kunci ke neraka,
∞ sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan khamr sebagai kunci SEGALA DOSA.
∞ Dia jadikan nyanyian sebagai kunci PERZINAAN,
∞ Dia jadikan melepaskan pandangan pada gambar-gambar sebagai kunci KEGELISAHAN
∞ Dia jadikan kemalasan dan kesantaian sebagai kunci KERUGIAN DAN LUPUTNYA SEGALA SESUATU,
∞ Dia jadikan kemaksiatan-kemaksiatan sebagai kunci KEKUFURAN,
∞ Dia jadikan dusta sebagai kunci KENIFAKAN (kemunafikan)
,
∞ Dia jadikan kekikiran dan ketamakan sebagai kunci KEBAKHILAN, MEMUTUS SILATURAHIM, SERTA MENGAMBIL HARTA DENGAN CARA YANG TIDAK HALAL, dan
∞ Dia jadikan berpaling dari apa yang dibawa Rasul sebagai kunci SEGALA KEBID’AHAN DAN KESESATAN.
“Perkara-perkara ini tidaklah membenarkannya kecuali setiap orang yang memiliki ilmu yang shahih dan akal yang bisa mengetahui dengannya apa yang ada dalam dirinya dan apa yang berwujud dari kebaikan dan kejelekan. Maka sepantasnya seorang hamba memperhatikan dengan sebaik-baiknya ilmu terhadap kunci-kunci ini dan kunci-kunci yang dijadikan untuknya.” (Hadil Arwah 1/48-49)
Dikutip dari artikel Kunci Kebaikan dan Kunci Kejelekan Majalah Al-Furqon No. 77 1429/2008 oleh Ummul Hasan
“Sesungguhnya Allah telah menjadikan bagi segala sesuatu kunci untuk membukanya, Allah menjadikan kunci pembuka shalat adalah bersuci sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
ツ‘Kunci shalat adalah bersuci’,
Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan:
ツ kunci PEMBUKA HAJI adalah ihram,
ツ kunci KEBAJIKAN adalah kejujuran,
ツ kunci SYURGA adalah tauhid,
ツ kunci ILMU adalah bagusnya bertanya dan mendengarkan,
ツ kunci KEMENANGAN adalah kesabaran,
ツ kunci DITAMBAHNYA NIKMAT adalah syukur,
ツ kunci KEWALIAN adalah mahabbah dan zikir,
ツ kunci KEBERUNTUNGAN adalah takwa,
ツ kunci TAUFIK adalah harap dan cemas kepada Allah ‘Azza wa Jalla,
ツ kunci DIKABULKAN adalah doa,
ツ kunci KEINGINAN TERHADAP AKHIRAT adalah zuhud di dunia,
ツ kunci KEIMANAN adalah tafakkur pada hal yang diperintahkan Allah, keselamatan bagi-Nya, serta keikhlasan terhadap-Nya di dalam kecintaan, kebencian, melakukan, dan meninggalkan,
ツ kunci HIDUPNYA HATI adalah tadabbur al-Qur’an, beribadah di waktu sahur, dan meninggalkan dosa-dosa,
ツ kunci DIDAPATKANNYA RAHMAT adalah ihsan di dalam beribadat terhadap Khaliq dan berupaya memberi manfaat kepada para hamba-Nya,
ツ kunci REZEKI adalah usaha bersama istighfar dan takwa,
ツ kunci KEMULIAAN adalah ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya,
ツ kunci PERSIAPAN untuk akhirat adalah pendeknya angan-angan,
ツ kunci SEMUA KEBAIKAN adalah keinginan terhadap Allah dan kampung akhirat,
ツ kunci SEMUA KEBURUKAN adalah cinta dunia dan panjangnya angan-angan.
❁ ❀ ✿ ❁ ❀ ✿ ❁ ❀ ✿ ❁ ❀ ✿ ❁ ❀ ✿ ❁ ❀ ✿ ❁ ❀ ✿ ❁ ❀ ✿ ❁ ❀ ✿
“Ini adalah bab yang agung dari bab-bab ilmu yang paling bermanfaat, aitu mengetahui pintu-pintu kebaikan dan keburukan, tidaklah diberi taufik untuk mengetahuinya dan memperhatikannya kecuali seorang yang memiliki bagian dan taufik yang agung, karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan kunci bagi setiap kebaikan dan kejelekan,
∞ kunci dan pintu untuk masuk kepadanya sebagaimana Allah jadikan kesyirikan, kesombongan, berpaling dari apa yang disampaikan Allah kepada Rasul-Nya,
∞ dan lalai dari dzikir terhadap-Nya dan melaksanakan hak-Nya sebagai kunci ke neraka,
∞ sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan khamr sebagai kunci SEGALA DOSA.
∞ Dia jadikan nyanyian sebagai kunci PERZINAAN,
∞ Dia jadikan melepaskan pandangan pada gambar-gambar sebagai kunci KEGELISAHAN
∞ Dia jadikan kemalasan dan kesantaian sebagai kunci KERUGIAN DAN LUPUTNYA SEGALA SESUATU,
∞ Dia jadikan kemaksiatan-kemaksiatan sebagai kunci KEKUFURAN,
∞ Dia jadikan dusta sebagai kunci KENIFAKAN (kemunafikan)
,
∞ Dia jadikan kekikiran dan ketamakan sebagai kunci KEBAKHILAN, MEMUTUS SILATURAHIM, SERTA MENGAMBIL HARTA DENGAN CARA YANG TIDAK HALAL, dan
∞ Dia jadikan berpaling dari apa yang dibawa Rasul sebagai kunci SEGALA KEBID’AHAN DAN KESESATAN.
“Perkara-perkara ini tidaklah membenarkannya kecuali setiap orang yang memiliki ilmu yang shahih dan akal yang bisa mengetahui dengannya apa yang ada dalam dirinya dan apa yang berwujud dari kebaikan dan kejelekan. Maka sepantasnya seorang hamba memperhatikan dengan sebaik-baiknya ilmu terhadap kunci-kunci ini dan kunci-kunci yang dijadikan untuknya.” (Hadil Arwah 1/48-49)
Dikutip dari artikel Kunci Kebaikan dan Kunci Kejelekan Majalah Al-Furqon No. 77 1429/2008 oleh Ummul Hasan
Selasa, 31 Mei 2011
Petikan tentang Ibu
Masih terngiang kata-kata ibu bila saya mula berdegil tidak mahu bersarapan, "Minum lah sikit baru cergas dalam kelas" atau kadang-kadang ibu juga mengugut jika saya tetap berdegail, "Tak baik tu, minum sikit nanti tak berkat belajar". Mungkin kerana takut dengan ugutan, saya selalunya akan memaksa diri minum juga walau seteguk.
Tabiat saya yang jarang bersarapan melekat hingga kini kerana tiada siapa lagi yang boleh memaksa saya bersarapan. Tapi yang agak melucukan apabila ibu saya selalu berpesan dicorong-corong telefon setiap kali saya saya menelefon rumah atau melalui SMS dengan 3 perkara; kerapkan mandi, ambil sarapan dan banyakkan minum air. Tapi biasalah saya memang degil...
Kisah ibu saya yang murah air mata terhadap anak-anak saya panjangkan dengan kisah kakak sulung saya. Ketika abang ipar saya menyambung pengajian di UKM sejurus sahaja lahir anak sulung menjadikan hidup mereka sekeluarga agak susah. Hidup di Kuala Lumpur menjadikan kesempitan mereka kian parah. Berbekalkan gaji sebagai kerani sekolah kakak saya yang tidak sampai ke angka 1000 dan separuh gaji suami lantaran bercuti menyambung pengajian sepenuh masa sebagai guru menjadikan hidup mereka kian terhimpit.
Hidup menyewa di rumah setinggan yang rata-rata didiami warga Indonesia menjadikan hati saya pilu dan kadang-kadang mata saya juga berkaca. Pernah saya berseloroh pada kakak saya untuk membawa pulang Along (anak sulung kakak saya) ke kampung bila lahirnya anak yang kedua. Reaksi yang saya terima hanyalah linangan air mata tanpa kata. Kakak saya menangis bila ada sahaja cadangan mahu memisahkan dia daripada anak-anak. Tekadnya biarlah susah macam mana sekalipun asalkan anak-anak tetap bersama.
Niat saya semasa memberikakan cadangan untuk membawa pulang anak sulung kakak saya ke kampung dan dipelihara ibu saya lahir daripada rasa kesian yang amat sangat dengan kesempitan yang dialami. Mudah-mudahan kesusahan tersebut dapat dikurangkan.
Pernah suatu ketika semasa melahirkan anak kedua, semasa dalam pantang 40 hari kakak saya ke klinik dengan menaiki bas bersama 2 anak. Anak sulung berumur setahun setengah dipimpin dan anak ke dua yang baru berumur sebulan didukung dengan menaiki bas untuk ke klinik dalam kesesakan kota. Hati mana yang tidak sedih bila mendengar khabar susah kakak sebegitu. Tidak mampu saya bayangkan betapa susahnya hidup mereka anak-beranak.
Namun semuanya diceritakan selepas abang ipar saya tamat pengajian dan sekarang sudahpun menjadi pensyarah di Universiti Malaya dan sedang menyiapkan tesis PhD dalam bidang Psikologi Dan Pendidikan Khas Kanak-Kanak Istimewa. Sesungguhnya perlu saya iyakan, disebalik kehebatan seorang lelaki rupanya ada jasa insan tabah yang bernama isteri.
Kini, Kisah Sebuah Realiti
Pandangan saya bahawa ibu saya hanya mampu menangis bila berpisah dengan anak-anak rupanya meleset. Dalam Majlis Konvokesyen apabila saya naik ke pentas untuk berucap mewakili pelajar ibu saya langsung tidak menangis. Semasa di lapangan terbang ketika menghantar saya ke Mesir, ibu saya juga tidak menangis. Masih saya ingat senyuman dan pelukkan terakhir tersebut langsung tidak menunjukkan reaksi sedih malah ibu saya nampak tenang dan gembira. Apa yang terbaliknya saya pula yang sebak dan mata saya sedikit berkaca sebagaimana ayah saya juga.
Lama saya berfikir kenapa ibu saya mula bertegas dan tidak menangis ketika menghantar saya di Airport. Seminggu selepas itu saya menelefon ibu saya dan saya straight bertanya kenapa demikian jadinya. Ibu saya bercerita bahawa 3 tahun beliau bersedia dengan perpisahan ini sebaik sahaja saya menjejakkan kaki ke KIAS, Nilam puri dan bertegas untuk menyambung pengajian di Universiti Al-Azhar. Katanya lagi, kini tiada apa lagi yang mahu disedihkan kerana hasratnya untuk melihat saya menjadi seorang berilmu kian hampir.
Ibu saya tidak menaruh harapan yang terlampau tinggi terhadap saya dan adik-beradik lelaki yang lain. Katanya beliau sudah puas hati sekiranya anak-anak berilmu, mampu menjadi imam di masjid dan mampu berkongsi ilmu dengan orang kampung. Pada saya tanggungjawab itu susah dan harapan itu tinggi.
Tabiat saya yang jarang bersarapan melekat hingga kini kerana tiada siapa lagi yang boleh memaksa saya bersarapan. Tapi yang agak melucukan apabila ibu saya selalu berpesan dicorong-corong telefon setiap kali saya saya menelefon rumah atau melalui SMS dengan 3 perkara; kerapkan mandi, ambil sarapan dan banyakkan minum air. Tapi biasalah saya memang degil...
Kisah ibu saya yang murah air mata terhadap anak-anak saya panjangkan dengan kisah kakak sulung saya. Ketika abang ipar saya menyambung pengajian di UKM sejurus sahaja lahir anak sulung menjadikan hidup mereka sekeluarga agak susah. Hidup di Kuala Lumpur menjadikan kesempitan mereka kian parah. Berbekalkan gaji sebagai kerani sekolah kakak saya yang tidak sampai ke angka 1000 dan separuh gaji suami lantaran bercuti menyambung pengajian sepenuh masa sebagai guru menjadikan hidup mereka kian terhimpit.
Hidup menyewa di rumah setinggan yang rata-rata didiami warga Indonesia menjadikan hati saya pilu dan kadang-kadang mata saya juga berkaca. Pernah saya berseloroh pada kakak saya untuk membawa pulang Along (anak sulung kakak saya) ke kampung bila lahirnya anak yang kedua. Reaksi yang saya terima hanyalah linangan air mata tanpa kata. Kakak saya menangis bila ada sahaja cadangan mahu memisahkan dia daripada anak-anak. Tekadnya biarlah susah macam mana sekalipun asalkan anak-anak tetap bersama.
Niat saya semasa memberikakan cadangan untuk membawa pulang anak sulung kakak saya ke kampung dan dipelihara ibu saya lahir daripada rasa kesian yang amat sangat dengan kesempitan yang dialami. Mudah-mudahan kesusahan tersebut dapat dikurangkan.
Pernah suatu ketika semasa melahirkan anak kedua, semasa dalam pantang 40 hari kakak saya ke klinik dengan menaiki bas bersama 2 anak. Anak sulung berumur setahun setengah dipimpin dan anak ke dua yang baru berumur sebulan didukung dengan menaiki bas untuk ke klinik dalam kesesakan kota. Hati mana yang tidak sedih bila mendengar khabar susah kakak sebegitu. Tidak mampu saya bayangkan betapa susahnya hidup mereka anak-beranak.
Namun semuanya diceritakan selepas abang ipar saya tamat pengajian dan sekarang sudahpun menjadi pensyarah di Universiti Malaya dan sedang menyiapkan tesis PhD dalam bidang Psikologi Dan Pendidikan Khas Kanak-Kanak Istimewa. Sesungguhnya perlu saya iyakan, disebalik kehebatan seorang lelaki rupanya ada jasa insan tabah yang bernama isteri.
Kini, Kisah Sebuah Realiti
Pandangan saya bahawa ibu saya hanya mampu menangis bila berpisah dengan anak-anak rupanya meleset. Dalam Majlis Konvokesyen apabila saya naik ke pentas untuk berucap mewakili pelajar ibu saya langsung tidak menangis. Semasa di lapangan terbang ketika menghantar saya ke Mesir, ibu saya juga tidak menangis. Masih saya ingat senyuman dan pelukkan terakhir tersebut langsung tidak menunjukkan reaksi sedih malah ibu saya nampak tenang dan gembira. Apa yang terbaliknya saya pula yang sebak dan mata saya sedikit berkaca sebagaimana ayah saya juga.
Lama saya berfikir kenapa ibu saya mula bertegas dan tidak menangis ketika menghantar saya di Airport. Seminggu selepas itu saya menelefon ibu saya dan saya straight bertanya kenapa demikian jadinya. Ibu saya bercerita bahawa 3 tahun beliau bersedia dengan perpisahan ini sebaik sahaja saya menjejakkan kaki ke KIAS, Nilam puri dan bertegas untuk menyambung pengajian di Universiti Al-Azhar. Katanya lagi, kini tiada apa lagi yang mahu disedihkan kerana hasratnya untuk melihat saya menjadi seorang berilmu kian hampir.
Ibu saya tidak menaruh harapan yang terlampau tinggi terhadap saya dan adik-beradik lelaki yang lain. Katanya beliau sudah puas hati sekiranya anak-anak berilmu, mampu menjadi imam di masjid dan mampu berkongsi ilmu dengan orang kampung. Pada saya tanggungjawab itu susah dan harapan itu tinggi.
Langgan:
Catatan (Atom)